7 Agustus 2011

Seksualitas dan Gender

Seksualitas dan Gender
a.  Definisi Gender
Gender adalah pandangan masyarakat tentang perbedaan peran dan tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki yang merupakan hasil kontruksi budaya dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman dan dukungan masyarakat itu sendiri.
Bias Gender adalah suatu pandangan yang membedakan peran , kedudukan, serta tanggung jawab laki-laki dan perempuan delam kehidupan keluarga.
Relasi gender adalah menyangkut hubungan laki-laki dan perempuan dalam kerja sama saling mendukung atau saling bersaing satu sama lain.
b.  Defini seksualitas
   Seksualitas merupakan bagian Itegral dari manusia. Seksualitas didefenisikan sebagai kualitas manusia, perasaan paling dalam, akrab, intim dari lubuk hati paling dalam, dapat berupa pengakuan, penerimaan dan ekspresi diri maanusia sebagai mahluk seksual.
Karena itu pengertian dari seksualitas merupakan sesuatu yang lebih luas dari pada hanya sekedar kata seks yang merupakan kegiatan fisik hubungan seksual.
Sex adalah perbedaan jenis kelamin yang ditentukan secara biologis. Yang secara fisik melekat pada masing-masing jenis kelamin, laki-laki dan perempuan.
c. Elemen seksualitas
Di tinjau dari berbagai sudut baik biologis, psikologis, maupun sosio dan kultural, seksualitas mencakup diri sendiri dan individu lain. Seksualitas merupakan proses yang berkesinambungan, yang berubah sesuai dengan usia, sesuai dengan
peran yang ada di masyarakat sesuai dengan gender serta interaksi dengan orang lain dan lingkungan. Seksualitas harus di pandang secara keseluruhan dalan konteks kehidupan manusia dan dalam berbagai dimensi. Karena pandangan tentang seksualitas mencakup siapa kita dan apa yang kita kerjakan.
1. Elemen biologis
1.1. PERKEMBANGAN AWAL
Perbedaan Biologis antara laki-laki dan perempuan di tentukan sejak masa konsepsi. Janin perempuan mempunyai dua kromosom X dari setiap orang tua. Janin laki-laki mempunyai kromosom X dan Y. Kromosom X dari ibu dan Y dari ayah. Awalnya tidak ada perbedaan yang menonjol dari perkembangan janin. Sejak tujuh minggu masa konsepsi, organ seksualitas laki-laki mulai terbentuk karena pengaruh hormon testeteron. Dan pada waktu yang sama organ seksual perempuan mulai terbentuk karena kurangnya testeteron, bukan karena adanya hormon esterogen. Pada masa puberitas, hormon membantu untuk menyempurnakan. perkembangan laki-laki dan perempuan. Perempuan mulai menstruasi dan terbentuk ciri seks skunder. Laki-laki mulai membentuk sperma dan ciri seks sekunder.
1.2. RESPON SEKSUAL DEWASA
Orang dewasa melakukan hubungan seksual untuk kesenangan dan untuk melanjutkan ketutunan. Laki-laki dan perempuan dewasa normal menjalankan peran dan identitas gender yang kuat.
1.3. MENAUPOSE
Menapause ditandai dengan berhentinya siklus menstruasi dan merupakan akhir dari kemampuan reproduksi wanita. Istilah klimakterium sebenarnya lebih tepat karena menggambarkan proses berkurangnya produksi esterogen oleh ovarium, berubahnya permukaan uterus,
berkurangnya ukuran vagina dan klitoris.
1.4. PENUAN DAN SEKSUALITAS
Seksualitas tidak ada hubungananya dengan usia. Tetapi usia ada hubungannya dengan seksualitas. Manusia selalu membutuhkan keakraban (intimacy) dan sentuhan selama hidupnya. Kemampuan untuk melakukan
hubungan seksualitas tidaklah berakhir dengan menapause. Ada sedikit perubahan yang terjadi dengan penuaan yang berdampak terhadap hubungan seksual.
Usia
Laki-lai
Perempuan
Setengah Baya
Ereksi lama, berkurang Ejakulasi (Dini). Penekanan pada sentuhan. Kesuburan baik. Bangkitnya gairah seksual berkurang, biasanya karena stress atau penyakit. Sering
terjadi pembesaran prostat
Berhentinya menstruasi, Kesuburan berparisi,menipisnya mukosa vagina, gairah seks karena efek androgen.
Kadang ada peraan takut
hamil.
Dewasa Tua
Mengecilnya ukuran penis dan testis. Meningkatnya masa pulih setelah orgasmus. Berkurangnya senssai penis, kemampuan ejakulasi. Kesuburan bervariasi. Dapat diakibatnya karena efek
samping obat dan penyakit.
Menurunya cairan vvagina,
lemah pada daeraah pubis.
Mukosa rapuh karena
menurunnya esterogen.

Infertil.
2. Elemen psikologis.
2.1. IDENTITAS GENDER
Identitas gender merupakan perasaan seseorang menjadi laki-laki atau perempuan, dan mendeskripsikan perasaan seseorang akan sifat kelakilakiannya atau kewanitaanya. Peran gender merupakan bagian dari identitas seseorang. Masyarakat mempunyai peran penting dalam perkembangan identitas gender. Begitu bayi lahir langsung memiliki identitas gender. Diberikan baju dan mainan tertentu. Selain itu respon orang dewasa
terhadap anak laki-laki dan perempuan berbeda tergantung pada cara dia di besarkan dan gaya mengasuh anak. Ketika anak tumbuh, ia menyatukan informasi dari masyarakat dan dari persepsi tentang dirinya untuk membangun identitas gender. Pada usia tiga tahun, anak tahu tentang dirinya sendiri, sebagai anak perempuan atau anak laki-laki. Mereka juga tahu bahwa tidak akan dapat mengubah seks dengan mengubah penampilannya. Josselyn (1969), mengemukakan bahwa sumber utama identitas seksual yang menentukan konsep seseorang akan dirinya dan orang lain sebagai wanita/pria tergantung dari :

♦ Ciri biologis yang di turunkan
♦ Konsep dan peran gender
2.2. PERAN GENDER
Peran gender merupakan ekspresi publik tentang identitas gender. Hampir semua ahli sosial yakin bahwa pengaruh sosial (orang tua, teman seusia dan media) merupakan kekuatan perkembangan utama dalam pembelajaran atau peran gender. Selain itu peran gander juga dapat dipelajari dari lingkungan individu berada, termasuk di sekolah dan di rumah. Pembelajaran formal tentang informasi spesifik tentang organ seksual, perubahan tubuh sehubungan dengan puberitas dan keinginan untuk menunda hubungan seksual sampai seseorang dianggap dewasa untuk melakukan hubungan seksual.
Pembelajaran yang paling berpengaruh melalui sistem nilai seksual dalam keluarga dan masyarakat. Anak mendapatkan sikap tentang suatu nilai tersebut sejak dini. Sering kali pola ini melibatkan represi dan menghindari topik seksual yang dianggap sebagai pengalaman negatif. Sumber pembelajaran yang juga berpengaruh, adalah berbagai lambang dan diskusi dengan teman sebaya. Meskipun demikian tidak sepenuhnya peran gender merupakan ciri masyarakat. Walaupun demikian, ada perbedaan prilaku anak laki-laki dibandingkan anak perempuan, bahkan semenjak masih bayi. Diperkirakan hormon seks mempunyai pengaruh pada otak dan prilaku. Peran gender merupakan area seksualitas yang tumbang tindih antara komponen psikologis, biologis dan sosiokultural.

2.3. ORIENTASI SEKSUAL
Orientasi seksual merupakan pilihan hubungan intim seseorang dengan lawan jenis atau sejenisnya. Mayoritas orang dewasa mengidentifikasi dirinya heteroseksual, yang berarti memiliki gairah seksual dengan lawan jenisnya. Kira-kira 10 % mengidentifikasi dirinya dengan homoseksual (Gay
pada laki-laki dan Lesbian pada wanita). Sejumlah kecil orang adalah Biseksual, mereka mempunyai hubungan intim dengan kedua jenis. Orang yang transeksual, tidak puas dengan keadaan fisiknya, karena tidak sesuai dengan peran identitas gendernya. Mereka seringkali merasa terperangkap dalam tubuh yang salah. Bertahun-tahun, masyarakat menyamaratakan homoseksual dengan transvertisme. Walaupun demikian, kedua hal ini tidaklah merupakan
fenomena yang sama. Merupakan kesalah-mengertian bahwa lesbian adalah perempuan yang ingin jadi laki-laki dan gay adalah laki-laki yang ingin jadi wanita. Laki-laki gay sering memang punya sifat kewanitaan dan wanita lesbian punya perilaku kelaki-lakian. Tetapi hampir semua laki-laki homoseksual dan wanita lesbian puas dengan gender laki-laki atau perempuannya. Keseimbangan seks dan seksualitas sangat penting dicapai oleh individu. Karena hal ini berpengaruh terhadap kemampuan individu dalam menjalankan peran dan fungsinya di masyarakat sesuai dengan identitas gender yang disandangnya. Kemampuan pencapaian keseimbangan seks dan seksualitas ini dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya dari sejak fase pertumbuhan dan perkembangan pada awal kehidupan individu, seperti tentang pengenalan identitas dan peran gender yang dipelajari individu di lingkungan tempatnya berada sesuai dengan ciri gendernya, contoh : adanya perbedaan prilaku dan peran antara anak laki-laki dan perempuan.

Karena identitas gender tersebut, prilaku gender dan norma seksual berbeda antar kultur dan berubah sesuai dengan zaman. Perlu di mengerti yang terpenting bukan norma itu sendiri, tetapi yang lebih penting adalah apakah norma itu di mengerti dan di terima oleh orang-orang pada kultur atau masyarakat dimana individu tinggal.

Istilah gender di ketengahkan oleh para ilmuwan sosial untuk menjelaskan mana perbedaan perempuan dan laki-laki yang bersifat bawaan sebagai ciptaan Tuhan dan mana yang merupakan bentukan budaya yang di konstruksikan, di pelajari dan disosialisasikan. Dengan mengenali perbedaan gender sebagai sesuatu yang tidak menetap, tidak permanen, memudahkan kita untuk membangun gambaran tentang realitas perempuan dan laki-laki yang dinamis yang lebih tepat dan lebih cocok dengan kenyataan yang ada pada masyarakat. Dengan kata lain kita perlu memisahkan perbedaan jenis kelamin dan gender adalah konsep jenis kelamin biologis yang bersifat permanen dan statis itu tidak dapat digunakansebagai alat analisis yang berguna untk memahami realita kehidupan dan dinamika perubahan relasi lelaki dan perempuan.
Secara sederhana perbedaan gender telah melahirkan perbedaan peran, sifat dan fungsi yang terpola sebagai berikut :
*      Konstruksi biologis dari ciri primer, skunder, maskulin dan feminim
*      Konstruksi sosial dari citra peran baku ( Stereotype ).

  1. Diskriminasi Gender
Bentuk-bentuk diskriminasi gender
          Ketidak adilan dan diskriminasi gender merupakan kondisi tidak adil akibat sistem dan struktur sosial dimana baik perempuan maupun laki-laki menjadi korban dari sistem tersebut. Berbagai perbedaan peran dan kedudukan antara perempuan dan laki-laki secara yang berluka perlakuan  maupun sikap, yang tidak langsung berupa dampak suatu peraturan perundang-undangan maupun kebijakan telah menimbulkan berbagai ketidakadilan yang telah berakar dalam sejarah adat, norma, ataupun dalam berbagai struktur .
             Marginalisasi (peminggiran/pemiskinan) yang menakibatkan kemiskinan, banyak terjadi dalam masyarakat dinegara berkembang seperti pengusutan dari kampung halamannya, eksploitasi dan sebagainya.  Peminggiran banyak terjadi dalam bidang ekonomi.  Misalnya banyak perempuan hanya mendapatkan pekerjaan yang tidak terlalu bagus, baik dari segi gaji, jaminan kerja ataupun status dari pekerjaan yang didapatkan.  Hal ini terjadi karena sangat sedikit perempuan yang mendapatkan peluang pendidikan.  Peminggiran dapat terjadi di rumah, tempat kerja, masyarakat, bahkan oleh negara yang bersumber keyakinan, tradisi/kebiasaan, kebijakan pemerintah, maupun asumsi-asumsi ilmu pengetahuan (teknologi).
     Contoh-contoh marjinalisasi:
*      Pemupukan dan pengendalian hama dengan teknologi baru yang dikerjakan laki-laki
*      Pemotongan padi dengan peralatan mesin yang diasumsikan hanya membutuhkan tenaga dan keterampilan laki-laki, menggantikan tangan-tangan perempuan dengan ani-ani.
*      Usaha konveksi yang lebih suka menyerap tenaga perempuan
*      Peluang menjadi pembantu rumah tangga lebih banyak diberikan kepada perempuan

             Subordinasi (penomorduaan) pada dasarnya adalah keyakinan salah satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibanding jenis kelamin lainnya. Sejak dahulu ada pandangan yang menempatkan kedudukan dan peran perempuan yang lebih rendah dari pada laki-laki. Anggapan bahwa perempuan lemah, tidak mampu memimpin, cengeng dan lain sebagainya, mengakibatkan perempuan jadi nomor dua setelah laki-laki. Kenyataannya yang memperlihatkan bahwa masih ada nilai-nilai masyrakat yang menimbatasi gerak perempuan di berbagai kehidupan.   Sebagai contoh apabial ada seorang istri yang hendak mengikuti tugas belajar atau hendak bepergian keluar negeri, ia harus mendapat izin suaminya. Tetapi apabila suami yang akan pergi ia bisa mengambil keputusan sendiri tanpa harus mendapat izin istrinya. Kondisi semacam itu telah menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting sehingga jika kemampuannya ia bisa menempati posisi penting sebagai pimpinan.
    Stereotip (citra buruk) yaitu pandangan buruk terhadap perempuan. Salah satu jenis steoretype yang melahirkan ketidak adilan dan diskriminasi bersomber dari pandangan gender kerena menyangkut pelabelan atau penandaan terhadap salah satu jenis kelamin tertentu. Misalnya perempuan yang pulang larut malam adalah pelacur, jalang dan berbagai sebutan buruk lainnya. Label perempuan sebagai ”ibu rumah tangga” sangat merugikan mereka jika hendak aktif dalam ”kegiatan laki-laki” seperti kegiatan politik, bisnis maupun birokrasi.
    Violence (kekerasan), yaitu serangan fisik dan psikis, merupakan suatu serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologi seseorang. Berbagai kekerasan tehradap perempuan sebagai akibat dari perbedaan peran muncul dalam berbagai bentuk. Oleh karena itu kekerasan tidak hanya menyangkut serangan fisk saja seperti pemerkosaan, pemukulan, dan penyiksaan, tetapi juga yang bersifat non fisik seperti pelecah seksual, ancaman dan paksaan sehingga secara emosional perempuan atau laki-laki yang mengalaminya akan merasa terusik hatinya. Perempuan, pihak paling rentan mengalami kekerasan, dimana hal itu terkait dengan marginalisasi, subordinasi maupun stereotip diatas. Misalnya : suami membatasi uang belanja dan memonitor pengeluarannya secara ketat, Istri menghina/mencela kemampuan seksual atau kegagalan karier suami.
    Beban kerja berlebihan, yaitu tugas dan tanggung jawab perempuan yang berat dan terus menerus. Sebagai suatu bentuk diskriminasi dan ketidak adilan gender adalah beban kerja yang harus dijalankan oleh salah satu jenis kelamin tertentu. Dalam rumah tangga pada umumnya, beberapa jenis kegiatan dilakukan oleh laki-laki, dan beberapa yang lain dilakukan oleh perempuan. Berbagai observasi menunjukan perempuan mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan rumah tangga, sehingga bagi mereka yang bekerja diluar rumah, selain bekerja diwilayah publik mereka juga harus mengerjakan pekerjaan domestik. Misalnya, seorang perempuan selain melayani suami (seks), hamil, melahirkan, menyusui, juga harus menjaga rumah. Disamping itu, kadang ia juga ikut mencari nafkah (di rumah), dimana hal tersebut tidak berarti menghilangkan tugas dan tanggung jawab diatas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar